Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." – (Matius 18:25)
Saya mengenal Lina sebagai gadis pemurung, mudah tersinggung dan cepat naik pitam. Suatu hari ketika memperoleh kesempatan untuk berbicara dengannya, dia bercerita tentang hubungannya yang buruk dengan ayahnya. Ayahnya agaknya seorang yang bertemperamen tinggi, kasar dan ringan tangan. Tidak hanya kepada anak-anaknya, ibunya pun sering menjadi sasaran kemarahannya. Lina pun tumbuh dengan kebencian yang dalam pada sang ayah.
Ketika ditanyakan apakah dia menyukai keadaannya itu, dia menyatakan keinginannya untuk berubah, dia pun rindu untuk dipulihkan dan mengalami sukacita di dalam hidupnya. Sayangnya, ketika ditantang untuk mengampuni ayahnya, Lina dia menggeleng, “Aku tidak bisa. Apa yang dilakukannya terhadapku, saudara-saudaraku dan ibuku tidak dapat dimaafkan”.
Saya tercenung mendengarnya. Betapa kita sering seperti itu, menyimpan kesalahan orang lain, mendokumentasikannya, memberinya bingkai lalu menggantungnya di dinding hati kita, dan setiap kali memandangnya kita mengingatkan diri kita sendiri betapa jahatnya mereka kepada kita. Sementara pada saat yang sama, kita merindukan hubungan dengan Allah, menginginkan janji-janji-Nya tergenapi dalam hidup kita dan meminta dia mengampuni dosa-dosa kita.
Tidak mengampuni sama dengan merampok diri kita sendiri dari persekutuan dan berkat rohani yang Allah sediakan bagi kita. Allah mengatakan bahwa apa saja yang kita minta dan doakan kita akan menerimanya (Mat.11:24). Tetapi sebelum kita berdoa, kita harus terlebih dahulu mengampuni orang yang bersalah kepada kita, supaya Allah juga mengampuni dosa-dosa kita (ay. 25). (esb)
SMS from God:
Allah mau mengampuni kita, tetapi kita pun diminta untuk mengampuni sesama kita.